Archive for March 2016
Pembuatan
film ‘Transformers 2 : Revenge of the Fallen’ membutuhkan skill dan spesifikasi
hardware tingkat tinggi.
Belum habis rasa takjub melihat
efek animasi Transformers 1, penikmat film kembali dipuaskan dengan special
effect Transformer 2. Rupanya, hadirnya kecanggihan robot-robot di dalam film
itu, berkat kerja keras sang sutradara, Michael Bay dan tangan dingin
Industrial Light and Magic (ILM), sebuah perusahaan visual effect yang
didirikan George Lucas. Alhasil, mobil, pesawat, dan alat-alat berat bisa
dibuat berubah menjadi robot-robot raksasa yang bisa bergerak lincah.
Kerja keras dalam riset dan
pengembangan teknologi animasi untuk menciptakan karakter dalam film
Transformers sudah dimulai sejak penggarapan film pertama. Memang, Transformers
2 adalah pengembangan dari hasil yang telah dicapai oleh Transformers 1.
Megatron untuk menciptakan karakter
yang sesuai dengan ikon dalam serial kartun Transformers, tim produksi bekerja
sama dengan tim dari Hasbro, sebuah perusahaan mainan yang menciptakan
model-model Transformers. Termasuk masalah detail dan proses transformasi para
robot tersebut. Orang yang berperan penting dalam terciptanya real live action
para robot Transformers yang awalnya hanya sebuah gambar kartun adalah Jeff
Mann, sang production designer pada Transformers 1.
Tak mudah membuat satu karakter Transformers.
Dibutuhkan ribuan keping komponen yang disatukan menjadi sebuah robot raksasa.
Dengan menggunakan teknik digital, tim spesial efek menciptakan
komponen-komponen itu lalu menempatkan titik-titik pergerakan agar nantinya
lebih mudah untuk digerakkan. Jika semua komponen dari tiap karakter robot yang
ada dalam film itu disusun berjejer, maka panjangnya mencapai 180 mil atau
seluas negara bagian California.
Setelah merangkai setiap komponen,
tantangan berikutnya adalah membuat robot-robot itu bergerak. “Orang berpikir
bahwa sebuah robot raksasa pasti akan memiliki pergerakan yang lambat, tetapi
Michael Bay justru menginginkan robot itu selincah ninja dan penuh aksi,” kata
Jeff White, Digital Production Supervisor ILM. Untuk merealisasikan hal itu,
tim produksi mengumpulkan berbagai rekaman adegan stunt yang kemudian gerakannya
diimitasikan pada robot-robot animasi tersebut.
DevastatorLalu untuk pergerakan
mulut dan raut wajah, mereka menggunakan facial animation process. Tim produksi
akan melakukan riset berapa titik wajah yang harus dipetakan ketika seseorang
bicara. Titik-titik itulah yang ditransformasikan dalam bentuk digital.
Misalnya, untuk membuat Optimus Prime seolah berbicara dibutuhkan sekitar
34.000 titik yang harus digerakkan.
Visual Effects Supervisor ILM,
Scott Farrar mengatakan, pada Transformers 2 setiap detail animasi dikembangkan
pada tahapan yang lebih halus. Di film ini juga terdapat sekitar 40 karakter
tambahan.
“Karena akan ditayangkan di IMAX,
maka film ini memiliki resolusi yang besar dan lebih kompleks,” jelasnya.
Karena menambahkan beberapa detail dalam penggarapannya, sang eksekutif
produser Steven Spielberg harus mengeluarkan dana lebih besar untuk menambah
daya tampung hard disk komputer tim produksi.
Kalau Transformers 1 menghabiskan
20 terabyte (sekitar 1,024 gigabyte), pada Transformers 2 dibutuhkan ruangan
digital sebesar 150 terabyte. Proses rendering (proses final dari beberapa
deretan proses animasi) juga membutuhkan waktu lama.
Sebagai gambaran, bila proses
tersebut dilakukan oleh satu komputer paling canggih, maka sebanyak 555 gambar
yang melibatkan visual efek, baru akan selesai di-render setelah 16.000 tahun.
Kerumitan tingkat tinggi juga
dihadapi dalam membuat karakter Devastator, robot paling besar dari kubu
Decepticon. Robot yang terbentuk dari tujuh robot hasil transformasi alat-alat
berat ini adalah robot penghancur. Dengan kekuatan satu hisapan saja, robot ini
bisa menarik dan menghancurkan benda apa saja yang berada di depannya. Karena
terbentuk dari beberapa robot Decepticon yang berbeda, ukuran robot yang satu
ini luar biasa besarnya. Devastator adalah robot terbesar di dua film
Transformers.
Sebagai perbandingan, untuk membuat
Optimus Prime dibutuhkan 10.000 komponen yang dapat bergerak. Sedangkan pada
Devastator, komponen yang dibutuhkan delapan kali lipatnya yaitu sekitar 80.000
komponen. Salah satu adegan yang merupakan karya terbesar yakni ketika
Devastator mendaki sebuah piramid lalu menghancurkan puncaknya, dan menghisap
bebatuan di atasnya. “Kami ingin membuat semua lebih real dalam adegan ini.
Untuk itu, kami me-render tak hanya robotnya tapi juga latar belakangnya,” kata
Farrar.
Film berdurasi 147 menit ini banyak
menyajikan keajaiban-keajaiban animasi. Tak hanya aksi Optimus Prime dan
rekan-rekannya, film ini sarat dengan ledakan akibat pertarungan para robot.
Memang ledakan-ledakan dalam film ini tak semuanya animasi, tim produksi juga
menggunakan bahan peledak yang penggunaannya sudah direncanakan.
Kualitas efek visual film ini tidak
perlu diragukan lagi dan patut mendapat acungan dua jempol. Autobot maupun
Decepticon terlihat sangat detail, gerakannya pun sempurna tanpa cacat. Selain
efek visual dan sebagainya, aktor-aktris film ini patut mendapat sorotan.
Apalagi penampilan seksi Megan Fox mampu jadi daya tarik tambahan dalam
‘Transformers: Revenge of the Fallen’ ini.
Kelompok 6
Kelas : 3IA17
Kelas : 3IA17
- Satria Nursetia Nugraha (58413298)
- Muhammad Faqih S (55413910)
- Respati Tri Susetyo (57413430)
- Luthfi Syam Nugraha (55413101)
- Bimo Harisantyo (51413745)
Review Pembuatan Film Animasi Transfomers 2 : Revenge of the Fallen
Perkembangan
Teknologi Printer 3D -- Perkembangan teknologi tidak terbatasa pada gadget
ataupu komputer bahkan alat pembantu seperti mouse spekaer bahkan printerpun
mengalami perkembangan seperti komputer maupun gadget. Di dunia percetakanpun
teknologi seperti printer terus dikembangkan hingga diprediksikan teknologi
printer 3D di ini tercipta. Alat ini berbentuk 3 Dimensi dimana sbuah objek 3D
dibuat dengan meletakan lapisan berturut-turut beberapa bahan atau dikenal dengan
sebagai prototipe atau stereolithography.
Printer 3D
ini akan menghasilkan benda padat bukan seperti mencetak selembar 2D seperti
printer yang sudah biasa anda gunakan. Printer 3D ini akan melengkapi teknologi
2D yang sudah lama kita gunakan sebagai alat cetak yang outuputnya berupa
lembaran dua dimensi
Proses
pembuatan produk menggunakan 3D printer -- Objek dibangun layer demi layer
hingga membentuk objek yang sempurna menggunakan material tertentu. Berbeda
dengan teknologi seperti pada mesin CNC (Computer numerical Control) yaitu
substractive manufacturing, 3D printing menganut teknologi additive
manufacturing dimana objek terbangun dengan membentuk layer per layer material
bukan membuang material seperti laser cutting. Terdapat sejumlah teknologi
dalam dunia 3D printing, masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan.
Dibawah ini
merupakan hasil teknologi printer 3D
Dua gambar
ditas merupkan hasil karya printer 3D yang dibangun oleh seorang pengusaha di
dubai.
Local Motors
asal Amerika Serikat (AS) berhasil menciptakan supercar pertama du dunia yang
dibuat menggunakan mesin printer 3D (Foto: Motorauthority).
Diatas
merupakan mobil super cepat hasil cetakan printer 3D.
Cara kerja printer 3D
Cara kerja
mesin ini hampir sama dengan printer 2D namun hanya sisi desainya yang berbeda.
1. Desain
Model
Jika ingin
melihat hasil kerja dari printer 3D anda harus buat dulu desain model dalam
bentuk 3 Dimensi dan ini juga menggunakan software khusus untuk model desain 3D
(seperti autocad) yang mendukung printer 3D tersebut. Contohnya anda ingin
mendesain gambar 3D Robot untuk anak-anak maka untuk percobaanya menggunakan
software 3D
2. Printing
Jika telah
selesai mendesain 3D robotnya anda bisa langsung print di print 3D. Proses
mencetak pun mulai lamanya mencetak tergantung besar dan ukuran model.
3. Finishing
Setelah
dicetak proses terakhir pun dilakukan dengan melihat hasil cetakan desain 3D
robot yang anda buat tadi.
Kelompok 6
Kelas : 3IA17
- Satria Nursetia Nugraha (58413298)
- Muhammad Faqih S (55413910)
- Respati Tri Susetyo (57413430)
- Luthfi Syam Nugraha (55413101)
- Bimo Harisantyo (51413745)



